Platform jualan online di Indonesia tidak hanya marketplace. Bagi seller beromzet besar, memilih platform jualan online selain marketplace kini jadi pertimbangan serius, terutama karena biaya berbasis persentase ikut naik setiap kali omzet naik.
Pemerintah memang mewajibkan marketplace memberi diskon biaya layanan 50 persen pada Juni 2026. Namun, diskon ini hanya berlaku bagi usaha mikro dan kecil yang terverifikasi. Usaha kecil berarti penjualan tahunan maksimal Rp15 miliar. Artinya, seller dengan omzet di atas angka tersebut tetap membayar tarif normal.
Artikel ini tidak mengajak Anda meninggalkan marketplace. Kami membahas platform jualan online lain yang bisa mengambil sebagian porsi penjualan, berikut kelebihan dan batasan setiap pilihan.
Kenapa Seller Besar Mulai Mencari Platform Lain

Bisnis.com melaporkan salah satu marketplace terbesar menetapkan biaya administrasi tertinggi 10 persen untuk kategori FMCG dan kebutuhan harian mulai Januari 2026. Toko juga masih menanggung biaya proses pesanan Rp1.250 per transaksi.
Sebagai gambaran, toko FMCG dengan omzet Rp2 miliar per bulan di kategori tersebut membayar biaya administrasi sekitar Rp200 juta per bulan. Angka ini belum termasuk biaya proses, program promosi, dan iklan. Dalam setahun, biayanya setara Rp2,4 miliar.
Hal ini menunjukkan bahwa persentase kecil bisa terasa besar di skala besar. Masalahnya juga bukan hanya soal besarnya biaya. Biaya berbasis persentase ikut naik setiap kali omzet naik. Semakin sukses toko Anda, semakin besar porsi yang Anda bayar ke platform.
Selain biaya, BPS dalam publikasi Cerita Data Statistik untuk Indonesia edisi September 2025 mencatat risiko lain dari marketplace, seperti akses data pelanggan yang terbatas dan delisting sepihak. Pembahasan lengkap soal untung rugi ini ada di artikel Berjualan di Marketplace, Untung Rugi yang Perlu Dipertimbangkan.
Pilihan Platform Jualan Online Selain Marketplace
Setiap kanal punya kelebihan dan batasan. Berikut lima pilihan yang layak seller besar pertimbangkan.
Kanal WhatsApp Milik Sendiri
Lewat WhatsApp Business API, toko bisa menjalankan katalog, keranjang, pembayaran, dan notifikasi pesanan langsung di dalam chat. Biayanya mengikuti jumlah pesan, bukan persentase nilai transaksi. Pesanan Rp200.000 dan pesanan Rp2.000.000 memakai jumlah pesan yang kurang lebih sama.
Kelebihan. Data pelanggan tersimpan di sistem toko, sehingga kanal ini cocok untuk pelanggan berulang dan program repeat order.
Batasan. Toko harus mendatangkan pelanggan sendiri, karena WhatsApp tidak punya lalu lintas pembeli bawaan seperti marketplace.
Penjelasan dasarnya ada di artikel apa itu WhatsApp Business API, sedangkan keuntungannya untuk toko kami bahas di artikel manfaat WhatsApp Business API untuk toko online.
Website Toko Sendiri
Website memberi kendali penuh atas tampilan brand, harga, dan promo. Kanal ini cocok untuk brand dengan banyak produk dan strategi konten yang kuat.
Kelebihan. Brand punya aset digital sendiri yang tidak bergantung pada aturan platform lain.
Batasan. Toko butuh waktu dan biaya untuk mendatangkan pengunjung lewat SEO atau iklan. Toko juga perlu mengurus hosting dan sistem pembayaran sendiri.
Penjualan Langsung ke Reseller dan Agen
Seller FMCG beromzet besar biasanya punya jaringan reseller, agen, atau toko kelontong. Melayani mereka langsung lewat WhatsApp dengan katalog harga grosir membuat transaksi bernilai besar tidak lagi terkena potongan persentase marketplace.
Kelebihan. Nilai transaksi per pesanan besar, dan pembeliannya cenderung rutin.
Batasan. Toko butuh tim sales dan sistem pencatatan piutang yang rapi, karena pembeli grosir sering meminta tempo pembayaran.
Cara menjaga stok dan chat tetap rapi saat pesanan grosir masuk lewat WhatsApp kami bahas di artikel Jualan di WhatsApp Tanpa Kehilangan Kendali Stok dan Chat.
Platform Quick Commerce dan Mitra Ritel Digital
Bisnis.com pada Mei 2026 mencatat seorang seller senior memindahkan operasionalnya ke platform quick commerce dan WhatsApp setelah menutup sementara tokonya di marketplace. Kanal seperti ini menjangkau pembeli yang butuh barang dalam waktu cepat.
Kelebihan. Toko bisa menjangkau pembeli di sekitar lokasi gudang atau toko fisik.
Batasan. Toko tetap bergantung pada aturan dan biaya platform mitra, sehingga masalah ketergantungan tidak sepenuhnya hilang.
Marketplace dengan Peran yang Lebih Sempit
Pilihan terakhir justru tetap memakai marketplace, tapi dengan tugas yang berbeda. BPS mencatat usaha yang memakai marketplace meraih pendapatan lebih tinggi. Karena itu, marketplace tetap berguna sebagai etalase untuk menjangkau pembeli baru.
Setelah pembeli belanja untuk pertama kali, arahkan pembelian berikutnya ke kanal milik toko. Dengan cara ini, toko tetap mendapat pembeli baru dari marketplace, sementara pembelian ulang tidak lagi terkena potongan persentase.
Perbandingan Platform Jualan Online untuk Seller Besar
Tabel berikut merangkum perbedaan setiap platform jualan online dari sisi kendali data, struktur biaya, dan kebutuhan tim.
| Kanal | Kendali data | Struktur biaya | Kebutuhan tim |
|---|---|---|---|
| WhatsApp milik sendiri | Penuh | Per pesan dan langganan platform | Admin dan CS |
| Website sendiri | Penuh | Hosting, pembayaran, dan iklan | Tim digital dan konten |
| Reseller dan agen | Penuh | Biaya operasional sales | Tim sales |
| Quick commerce | Terbatas | Mengikuti mitra | Tim operasional |
| Marketplace | Terbatas | Persentase per transaksi | Admin toko dan iklan |
Dari tabel tersebut, kanal milik sendiri memberi kendali data penuh, tapi menuntut tim yang lebih siap. Sebaliknya, marketplace dan quick commerce lebih praktis, tapi kendali data dan biayanya tetap berada di tangan platform.
Cara Memilih Platform Jualan Online yang Tepat
Tidak ada satu platform jualan online yang cocok untuk semua toko. Sebelum memutuskan, cek tiga hal berikut.
Pola belanja pelanggan. Jika sebagian besar omzet datang dari pelanggan berulang, kanal milik sendiri seperti WhatsApp memberi hasil paling cepat. Pelanggan ini sudah percaya pada toko, sehingga toko tidak perlu banyak biaya untuk mengajak mereka belanja lagi.
Kesiapan tim. Website butuh tim konten dan iklan, sedangkan penjualan ke reseller butuh tim sales. Pilih kanal yang sesuai dengan tim yang sudah ada, lalu tambah kanal lain saat tim sudah siap.
Struktur biaya. Hitung biaya setiap kanal dalam persentase omzet. Kanal dengan biaya tetap atau biaya per pesan biasanya makin hemat saat omzet naik, sementara kanal dengan potongan persentase justru makin mahal.
Setelah tiga hal ini jelas, toko bisa menentukan platform mana yang jadi prioritas pertama dan mana yang cukup jadi pelengkap.
Cara Membagi Porsi Penjualan
Jangan memindahkan semuanya sekaligus. Mulai dengan target sederhana, misalnya memindahkan 10 sampai 20 persen omzet dari pelanggan berulang ke kanal sendiri dalam enam bulan.
Selain itu, ukur margin di setiap platform jualan online setiap bulan. Jika margin kanal sendiri lebih baik dan operasional sudah stabil, naikkan porsinya secara bertahap.
Ada satu hal lagi yang perlu Anda ingat. Sejak 1 Oktober 2026, marketplace memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen dari omzet pedagang. DJP menegaskan aturan ini bukan pajak baru, sehingga kewajiban pajak tetap sama di kanal mana pun Anda berjualan. Dengan kata lain, pindah kanal adalah soal biaya platform dan kendali data, bukan soal pajak.
Dicommerce, Platform Jualan Online dengan Biaya Tetap

Sebagai Official WhatsApp Business Partner di Indonesia, Dichat menghadirkan Dicommerce untuk seller beromzet besar yang ingin berjualan lewat WhatsApp. Pelanggan bisa melihat katalog, checkout, membayar, dan menerima resi tanpa keluar dari chat. Di sisi toko, pesanan, stok, dan pembayaran tercatat dalam satu sistem.
Dicommerce juga mendukung kebutuhan seller besar, seperti harga khusus per reseller atau wilayah, pesanan grosir, dan pesanan dari banyak cabang yang masuk ke satu sistem. Toko cukup membayar langganan tetap, tanpa potongan per transaksi yang ikut naik bersama omzet.
Mari mulai bangun platform jualan online milik sendiri, tanpa harus meninggalkan marketplace. Tim kami siap membantu menghitung kebutuhan toko Anda lewat halaman trial Dichat. Tumbuh Bisnisnya, Bukan Biayanya.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Marketplace bisa mengubah biaya dan aturan kapan saja, misalnya kenaikan biaya administrasi kategori FMCG menjadi 10 persen di salah satu marketplace besar mulai Januari 2026. BPS juga mencatat risiko lain seperti akses data pelanggan yang terbatas dan delisting sepihak. Kanal sendiri memberi Anda kendali atas biaya dan data.
Tidak harus. BPS mencatat usaha yang memakai marketplace meraih pendapatan lebih tinggi. Strategi yang lebih aman adalah memakai marketplace untuk menjangkau pembeli baru, lalu melayani pelanggan setia dan repeat order lewat WhatsApp.
Tidak. Sejak 1 Oktober 2026, empat marketplace yang ditunjuk DJP memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen dari omzet pedagang. DJP menegaskan aturan ini hanya mengatur cara pemungutan, bukan pajak baru. Pedagang dengan omzet sampai Rp500 juta per tahun bisa bebas pungutan dengan menyerahkan surat pernyataan. Kewajiban pajak atas penghasilan toko tetap berlaku di kanal mana pun Anda berjualan.
Permen UMKM Nomor 3 Tahun 2026 mewajibkan marketplace memberi potongan biaya layanan minimal 50 persen bagi usaha mikro dan kecil yang hanya menjual produk dalam negeri. Seller harus mendaftar dan lolos verifikasi lewat SAPA UMKM lebih dulu. Usaha kecil berarti penjualan tahunan maksimal Rp15 miliar, jadi seller menengah dan besar tidak termasuk.
